Taty Sugiarty Kenalkan Batik Cirebon Melalui Batik Laksmi, Diambil dari Nama Anaknya

TRIBUNJABAR.ID – Batik menjadi warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai dan perpaduan seni yang tinggi.

Jika sebelumnya batik hanya digunakan untuk kegiatan formal, kini pakaian batik di desain lebih modern dan bisa dipadu padankan dengan gaya apapun.

Ketertarikan akan batik khususnya batik Cirebon menjadi daya tarik tersendiri bagi Taty Sugiarti.

Taty Sugiarty yang dibesarkan di Cirebon melihat batik menjadi kekayaan budaya yang harus dikenalkan kepada seluruh nusantara bahkan dunia.

Untuk memperkenalkan batik Cirebon akhirnya Taty Sugiarty membuka usaha dengan nama Batik Laksmi.

“Saya ingin sosialisasi mengenai batik Cirebon dan membawanya ke Bandung. Saya mengemas batik Cirebon dengan gaya yang lebih modern tetapi tidak mengubah pakem dari batik itu sendiri,” ujar Taty Sugiarty saat ditemui di toko Batik Laksmi, Jalan Setrasari Kulon No 11, Rabu (20/3/2019).

Nama Laksmi dipilih Taty yang diambil dari nama anak keduanya. Taty mengatakan, Laksmi juga merupakan seorang dewa yang menggambarkan kecantikan, keindahan, kemewahan, kecerdasan, dan segala sesuatu yang bersifat baik.

Lewat nama Laksmi, Taty melihat adanya kecocokan akan batik karena nilai yang terkandung disana.

Wanita kelahiran Jakarta, 14 Juli 1977 ini menilai ketika menggunakan batik seseorang akan tampil lebih berwibawa.

Untuk membangun fashion batik, Taty mengaku memang butuh waktu untuk membangun bisnis yang berkarakter karena banyak orang yang lebih suka dengan sesuatu yang sudah umum.

“Ciri dari Batik Laksmi adalah tidak pernah merusak keindahan batik itu. Ketika mau memodifkasi pakaian, saya lebih tidak mau merusak gambar seni batiknya,” ujar ibu dua orang anak ini.

Keindahan seni yang ada pada batik tulis yang langsung dibuat di Cirebon ini diakui Taty membuatnya tidak memaksakan mengikuti mode.

Ia lebih baik membiarkan batik terlihat indah dan dipadu padankan dengan material yang bagus dibandingkan merusak keindahan batik itu tersendiri.

“Saya memadu padankan dengan berbagai bahan seperti dengan brukat dan beludru. Saya juga melihat kain apa yang cocok digunakan, tidak asal tempel saja,” ujar dosen hukum ini.

Batik Laksmi bisa digunakan untuk usia 30 tahun keatas yang cocok digunakan untuk wanita dewasa.

Untuk membuat pakaian batik, Taty mengatakan memang tidaklah mudah. Ia bahkan memiliki tim khusus untuk proses memotong kain batik supaya hasilnya tetap simetris.

Nilai keindahan akan batik disebarkan oleh Taty kepada konsumennya. Ia seringkali memberikan masukan kepada konsumen tentang bagaimana memilih kain batik.

“Menjahit batik itu beda dengan tekniknya dengan bahan biasa. Mulai dari kantong kemeja saja harus nyambung tidak boleh terpotong. Orang yang memotong batik pun nggak sembarangan tidak boleh ada kesalahan,” ungakpnya.

Alasannya tidak lain karena nilai artistiknya ada disana. Ketika ada konsumen yang meminta pendapat akan model yang digunakan Ia selalu dengan senang hati memberi masukan dan bersyukur konsumennya selalu bisa menerima.

Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id